Time and Moment

bukber

Berawal dari rencana kami untuk berbuka puasa bersama sore itu. Sepulang kerja aku berangkat menuju Kiaracondong menembus kemacetan di jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

Awalnya aku ragu akan rencana itu. Tapi tak pantas rasanya bila aku tiba-tiba membatalkannya hanya karena aku ragu. Raguku sebenarnya bertambah ketika aku tau, saudara kesayanganku datang dari luar kota. seketika itu ingin sekali rasanya membatalkan acaraku bersamanya.

Tapi ku pikir lagi, ahh sudahlah. Aku putuskan untuk ikut acara itu. meski hanya setengah hati saja. Mood-ku tak begitu baik sore itu. Ketika temanku bercerita pun. Jawabanku hanya seadanya. Entahlah… rasanya aku ingin kabur saja dari tempat itu.

Aku mencoba bertahan dengan mood seadanya, memaksa tersenyum. Berusaha membuat nyaman dengan keadaan seadanya itu. Aku berusaha berbaik sangka pada situasi yang akan terjadi di warung tenda itu. Sungguh aku berusaha berpikir positif dari berbagai hal.

Hingga saat teman-temannya datang satu persatu mendatangi meja kami. Saat itu aku berusaha sebiasa mungkin. Memasang senyum semanis mungkin. Walaupun hasilnya tak bisa maksimal karena aku sedang tidak dalam kondisi yang baik.

Waktu pun berjalan. Disitu aku hanya seperti orang asing yang salah tempat duduk. Sendiri. Aku tak tahu harus bicara apa. Mereka semua sibuk dengan pembicaraan mereka saja. Aku semakin tak ingin berlama-lama. Tapi rasanya waktu berjalan sangat lambat. Dan dia seakan lupa bahwa ada aku yang duduk disebelahnya.

Mereka asyik bercanda, namun aku? Rasanya aku ingin menjauh, atau bahkan pindah tempat duduk saja.

Dia sadar aku tak bahagia. Aku tahu, wajahku tak bisa bersembunyi dibalik senyum yang terpaksa itu. Mataku bahkan sudah panas dan hampir meneteskan air matanya. Namun ku tahan sekuat tenaga.

Hingga sampai waktu pulang pun datang. Mereka berfoto ria. Aku memang menawarkan jasa menjadi tukang foto mereka. Pikirku tak apa lah, aku bukan bagian masalalu mereka. Jadi tak perlu pula aku ada di dalam moment sore itu. Salah seorang temannya mengingatkan memang, jika aku yg mengambil foto nanti aku tak akan ada di foto itu. Tak apa jawabku. Aku sedikit tersenyum tulus saat itu, berterima kasih dalam batinku. “Terima kasih sudah mengingatku, menganggaku ada”  batinku. Dia? Entah dia ingat atau tidak, aku tak tahu. Bahkan dia tak memintaku untuk sekedar berfoto dengannya saat itu. Berdua.

Kecewa? tentu saja.

Marah? sedikit.

Tapi aku lebih berusaha berfikir bahwa itu bukan salahnya, aku yang salah. Kenapa aku mau? kenapa aku tak meolaknya saja? Bukankah aku punya hak untuk menolak? Benar. Tapi dia yang meyakinkanku untuk datang menemaninya. Maka aku pikir, baiklah. Tak ada salahnya bukan aku ikut? Menambah teman…

Ahh sudahlah pikirku.

Akhirnya aku pamit terlebih dahulu. Meninggalkan mereka yang masih bernostalgia.

Ku gas motorku melaju melalui jembatan layang Pasopati menuju Pasteur. Hingga akhirnya aku sampai di daerah Cimindi yang macet sore itu dengan pikiran yang berkecamuk. Aku marah, kecewa, merasa bodoh pula.

Sungguh aku kecewa saat itu…

Ada kecewa yang seketika membuncah
Ada perih yang tiba-tiba tertumpahkan
Ada bulir air mata yang tiba-tiba mengalir
Dan malam ini kusampaikan terima kasihku untuk banyak hal
It's all about time and moment
And that day, I don't get them both..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s