TERJEBAK NOSTALGIA

screenshot_2016-11-07-11-23-52

Malam itu, hatiku seperti diacak-acak kembali. Antara bahagia, sedih, lucu, kesal. Semua berbaur menjadi satu. Dan kau tau bagaimana rasanya ketika mereka semua bersatu ? Entahlahh..

Hatiku sesak, jantungku kembali berdegup seolah ia sedang berlomba lari.

Dan semua kejadian tentang masalalu seolah menyeruak, semua perasaan yang sudah tertata rapi untuknya kembali berantakan. Tercecer dimana saja. Kau benar, aku berlebihan. Kutahan sekuat tenaga, kugenggam erat semua rasa yang terlanjur berbunga. Ku ikat agar tak lepas dan hilang kendaliku.

Duhai Tuhan, susah sekali ternyata mengontrol perasaan yang sudah terlanjur berbunga.

Daaan..

Namanya Sudit Setyasto.

Tak banyak yang tahu tentangnya. Tak banyak yang tahu tentang rasa yang pernah ada dan berkembang untuknya. Dia sudah menikah beberapa tahun lalu. Dan aku pernah dimarahi oleh istrinya karena dianggap sudah mengganggu mas Sudit. Ahhh… disitu kupikir istrinya benar, tak seharusnya aku berbincang dengan suami orang. Aku pun mundur. Ku hapus kontak teleponnya. Karena aku enggan berurusan dengan perasaan itu lagi.

Tapi malam tadi, aku hanya ingin sekedar menyapanya. Mengecek, benarkah kontak Line nya masih aktif. Dan ternyata benar, kontaknya masih aktif.

Dan ketika aku sudah berbincang dengannya, aku salah. Kupikir aku sudah berhasil. Ternyata belum. Rasanya masih sama, hanya saja aku selalu katakan pada diriku sendiri, bahwa dia ada bukan untuk dimiliki. Ibarat bintang saja, ia indah untuk hanya dilihat. Tapi tak akan pernah mungkin untuk tersentuh.

Aku selalu terkesan padanya ketika dia membahas soal “kumis”ku. Aku memang berkumis tipis, tapi seharusnya jika orang tak memperhatikanku dia tak akan tau soal kumis di wajah ini.

Selain dia tampan, bagiku dulu dia orang yang ramah. Dia baik, karena dia mau memberikan nomor telepon pada anak magang di kantornya.

Ya, aku sedang magang sekolah pada kala itu. Dan dia salah satu anggota polisi di kantor tempatku magang. Asalnya dari Wonosobo.

Terima kasih, mas Sudit. Aku pernah bahagia mengenal dan berbincang denganmu. Sehat selalu, bahagia dengan keluarga kecilmu.

Terima kasih, karena aku pernah punya kesempatan untuk dekat.

Ini aku, yang pernah bahagia dengan rasaku padamu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s