Aku, Hujan, dan Air

hujan22

ridhobrilliant.tumblr.co

Akan aku ceritakan kepadamu peristiwa kemarin yang membuat aku sedih, sekaligus bahagia.

Kemarin, Rabu 9 November 2016 cuaca gelap. Mendung, sang awan hitam pekat. Ku mulai perjalanan pulangku seperti biasa. Aku tak lupa memakai jas hujanku, khawatir akan hujan deras. Dan aku enggan berhenti untuk sekedar memakai jas hujan itu. Kupacu teman seperjalananku, namanya Xe.

Aku lega melewati titik rawan banjir pertama, pastinya aku tersenyum bangga dan bahagia. Pikirku “ahh, pasti aman. Tenang saja, sebentar lagi sampai rumah”.

Tapi ternyata Allah berkehendak lain dari apa yang aku pikir. Titik rawan banjir kedua ternyata sudah deras aliran banjirnya. Tak ada pilihan lain. Aku harus mengistirahatkan Xe. Aku berteduh, hujan masih deras, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Saat itu waktu menunjukkan  pkl. 17.20.

Waktu pun berjalan. Ia tak akan berhenti apapun yang terjadi. Benar adanya jika takdir tak akan datang hanya untuk bertanya ataupun menyapa kita. Ia akan datang tanpa basa basi.

Kutunggu banjir agak surut, sambil sesekali aku perhatikan lingkungan sekitarku. Aku belajar banyak hal sore itu. Ternyata, banjir memberikan banyak sedekah. Karena setiap orang yang berpapasan akan tersenyum dan bertegur sapa. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Ahh begitulah manusia, harus dihadapkan pada satu hal besar agar mereka mau  bersatu dan bertegur sapa.

Kulihat pula ada kakak yang menyebrangkan adiknya diderasnya genangan banjir. Bahkan, ada seorang bapak yang rela membantu menyebrangkan anak-anak yang ketakutan.

Setelah agak surut baru kusebrangi lautan banjir itu. Ahh awalnya kupikir semua sudah selesai. Tapi ternyata aku salah lagi. Aku terjebak banjir untuk yang kedua kalinya. Tapi aku bertemu dengan orang baru. Namanya Nisa dan seorang pria dewasa entah siapa namanya, kami berputar mencari jalan alternatif yang bisa dilalui. Sungguh, percayalah, bahwa keinginan kami saat itu adalah “pulang”.

Aku kedinginan, badanku basah kuyup, perutku lapar.. ahh lengkap sudah rasanya malam itu.

Tak terasa waktu sudah pkl. 21.00.

Kau bayangkan saja dari kantor aku pulang pkl. 16.30, dan malam itu pkl 21.00 aku belum juga sampai rumah, rasanya aku ingin sekali menangis. T_T

Tapi kupikir, untuk apa? Nikmati sajalah… tak tiap hari ini bukan? Jadi aku pergi saja ke warung. Ku beli jajanan yang aku suka. Sekedar untuk mengisi perutku yang kosong sejak tadi.

Aku berikan sebagian kecil jajananku untuk orang disebelahku. Awalnya memang mereka menolak. Tapi aku kekeuh memberikannya. Tak apa, menikmati sesuatu disaat terdesak seperti itu menyenangkan bukan? Berbagi saja. Aku senang. Kebahagiaan malam itu sederhana sekali, ketika kita bisa sekedar melempar senyum, atau bahkan berbagi informasi apapun. Bagiku itu sudah menyenangkan.

Tapi, kebahagiaanku tak berhenti sampai disitu. Karena begitu mendengar jalannya sudah agak bisa dilalui, maka aku dan Nisa segera beranjak pulang. Yaaaaiiiiiyyyy… aku senang. pulang, pikirku.

Dalam benakku yang ada hanya rumah, pulang, kasur, dan hangat…

Ku pegang gas Mr. Xe, kujalankan dia dengan semangat penuh. Sesampainya kami dibelokan gang terakhir, astagaa… airnya masih saja setinggi betis orang dewasa.  Aku bingung, tapi ketika melihat orang lain bisa lewat, aku optimis. Seorang pria memberikanku penutup knalpot, agar air tak masuk ketika aku lewat. Itu baru kebaikan pertama yang aku dapat ketika akan melewati banjir. Setelahnya setelah aku lihat air masih tinggi, aku agak takut untuk lewat. Aku takut Xe ngambek atau sakit. Atau mungkin aku yang takut tidak kuat mendorongnya. Kau harus tahu, Xe itu berat. Tapi seketika ada seorang pria remaja yang membantuku mendorong Xe. “sok teh, ku abi didorong”, katanya. Ahhh… dia baik sekali, tanpa aku minta dia sudah menawarkan bantuan. Itu kebaikan kedua.

Setelah melewati banjir, Xe ngambek. Ia tak mau jalan. Rodanya tetap saja diam, ketika aku coba gas. Aku kalut, rasanya sungguh ingin menangis saja kalau boleh. Tapi aku harus kuat. Tapi kala itu ada seorang pria muda berkata “kunaon teeh? Naha teu jalan?”. “iya A, gatau ini”, jawabku.

Tapi dia langsung berkata “sok teh jalan, ku abi di dorong sok”. Aku bahagia rasanya, aku sadar orang-orang baik selalu ada dalam setiap kejadian. Dan itu kebaikan ketiganya.

Terima kasih, kepada kalian yang ada bersamaku ketika akan melewati banjir. Terima kasih, kepada siapapun kalian yang membantuku. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berlipat ganda.

Malam itu aku belajar, dan sekaligus membuktikan sendiri kalimat

“JANGAN PERNAH MENYEPELEKAN KEBAIKAN, SEKECIL  APAPUN”

Aku tidak tahu, kebaikan yang aku dapat malam itu doa ataupun balasan kebaikan dari siapa. Tapi yang jelas, aku berpikir mungkin karena jajanan yang sedikit aku berikan kepada sebelahku malam itu. dan Allah membalas semua itu dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Aku bukan orang baik, tapi aku ingin belajar menjadi lebih baik. Semoga Dia, senantiasa mengindahkan akhlakku dan akhlak kalian…

Jangan lupa belajar, bersyukur, dan pandai mengambil pelajaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s