ENTAHLAH

Satu kata yang sering aku gunakan untuk mengawali tulisanku dalam keadaan apapun. Apakah satu kata itu juga mencerminkan diriku yang serba membingungkan? Atau keadaan yng sulit aku pahami?

Sejak pagi tadi, aku memikirkan banyak hal. Tentang aku, kisah cinta, tujuan hidup, jenjang pendidikan, atau sekedar cita-cita. Aku memang bukan manusia yang optimis akan sesuatu hal. Aku lebih sering menjadi manusia yang mengalir saja, membiarkan semua berjalan seadanya. Padahal aku tahu persis, bahwa jika aku ingin lebih, aku harus banyak mengalami proses yang mungkin tak setiap orang mau untuk menjalaninya.

Terkadang aku bosan dengan hidupku yang terasa begitu-begitu saja. Tidak ada tantangan yang harus aku taklukkan, tidak ada masalah besar yang harus aku hadapi dengan sekuat tenaga hingga titik nadi terakhir misalnya. Atau aku berkejaran dengan deadline, dan waktu yang tersisa mungkin. Semua seperti sudah biasa aku lakukan. Aku bosan, aku perlu hal baru yang memberi warna dalam hidup ini. Setidaknya aku perlu hijau, kuning, atau bahkan mungkin merah. Bukan hanya hitam, abu-abu, atau putih saja yang ada.

Aku selalu takjub dengan kata-kata tere liye dalam quotesnya “meneduhkan sekali melihat tatapan dan sorot mata gadis yang berwawasan luas”. Aku ingin menjadi wanita seperti itu. Ahh tapi selalu saja ada yang membuatku berpikir ulang, mengalihkan semua keinginan yang sudah aku bangun dengan semangat membara itu…

Temanku benar, bahwa aku mudah terprovokasi oleh orang lain. Aku mudah hanyut, dan bahkan bisa saja aku tenggelam karena terbawa arus yang ada. Pendirianku mudah goyah, pijakanku lemah.

Sejak dulu, aku tak terbiasa bermimpi ataupun bercita-cita. Menyedihkan sekali bukan? Disaat gadis kecil lain sedang berpikir akan menjadi apa ia kelak, aku bahkan bingung menentukan ingin jadi apa aku kelak?

Bahkan saat sudah sedewasa ini, aku masih belum tahu ingin menjadi apa aku nanti?

Tapi saat ini aku hanya berpikir kelak putra putriku tak boleh sepertiku yang hanya mengikuti arus. Ia harus bercita-cita. Ia harus berani bermimpi. Ia harus bisa menjadi apa yang dia mau, dan berbesar hati jika ia tak mendapatkannya. Ia harus berani bermimpi, tapi juga harus bisa menerima hal yang akan terjadi apabila kelak apa yang terjadi tak sesuai dengan impiannya.

Ia harus tetap berjiwa besar.

Maka cita-citaku saat ini hanya satu : “Aku ingin menjadi istri yang baik serta ibu yang bisa mendidik anak-anakku  dengan baik, mencetak mereka agar memiliki karakter. Bukan hanya cerdas.”

Seperti pepatah lama mengatakan “Kita tidak pernah bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa. Tapi kita selalu memliliki kesempatan untuk menjadi orang tua seperti apa”

Bukan, bukan aku tak bersyukur terlahir dari keluarga seperti ayah ibuku. Aku bersyukur sekali. Bahkan aku pantas berbangga hati memiliki mereka. Tapi aku hanya menyesali  bahwa aku tak memiliki keberanian cukup untuk menjadi lebih dari apa yang aku bisa saat ini. Itu saja.

Duhai Tuhanku,

Maafkan aku bila aku gagal bersyukur hari ini

Maafkan aku yang belum bisa menerima masa lalu yang pengecut itu

Masa lalu yang membelengguku, hingga saat ini

Maafkan aku yang tak pernah berani mengambil resiko

Duhai Engkau yang Maha membolakbalikkan hati,

Jadikanlah hati ini hati yang lapang

Jadikan jiwa ini jiwa pemaaf

Bukan agar ia memaafkan orang lain

Tapi agar ia bisa memafkan dirinya sendiri

Dan aku berdoa kepada Tuhanku, semoga kelak kau yang mendampingiku adalah pria tangguh yang selalu membutuhkanku. Karena bagi wanita, tidak ada yang lebih membuat nyaman selain merasa dibutuhkan seutuhnya olehmu…

Semoga kelak, kau dan aku, kita selalu bisa menjadi sahabat.  Yang tak hanya selalu berbagi senyum dan tangis, tapi juga selalu berbagi cerita.

Tak mengapa aku menangisimu setiap malam karena bertanya-tanya kapan waktuku bertemu denganmu, sedang yang lain mungkin sudah meninggalkanku jauh.

Tapi aku masih saja disini, menantimu dengan keyakinan hatiku. Yang walaupun terkadang aku ragu, tapi aku mencoba untuk tetap yakin pada Tuhanku. Bahwa kau akan segera datang, kau akan segera menjemputku..

Semoga semakin hari aku semakin kuat, sekuat hati ini menantimu dalam ketidakpastian itu,

Semoga aku semakin sabar, sesabar hati ini menjaga cintanya,

Dan semoga aku dan perilakuku semakin membaik,

Biarlah aku memantaskan diriku sembari menanti kedatanganmu itu,

Berhati-hatilah pula kau disana,

Jangan tersesat, segeralah kembali

Tulang rusukmu ini menantimu dengan segala kerinduan dan kecemasannya…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s